Lebih dari 100 Hektare Padi Sawah Bukit Biru Gagal Panen akibat Kekeringan
Kondisi kawasan
persawahan di Bukit Biru yang terdampak kekeringan dan mengalami gagal panen.
(Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Berbulan-bulan merawat sawah, petani di Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kini harus menerima kenyataan pahit. Kekeringan telah membuat lebih dari 100 hektare lahan pertanian dipastikan gagal panen.
Di tengah kerugian
tersebut, kelompok tani mulai menghimpun data petani terdampak untuk memastikan
mereka tercatat sebagai penerima bantuan pangan dari pemerintah.
Ketua Gabungan
Kelompok Tani (Gapoktan) Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, Hasim
Adnan mengatakan, pendataan menjadi langkah awal yang perlu segera dilakukan
untuk mengetahui jumlah petani dan warga yang terdampak gagal panen.
Berdasarkan pendataan
awal, jumlah petani yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 200 orang.
“Kalau petaninya
sekitar 200-an. Kalau yang gagal panen, luasannya bisa 100 hektare lebih,”
ujarnya kepada Poskotakaltimnews pada Jumat (11/9/2026).
Pendataan tersebut
rencananya akan disampaikan kepada seluruh kelompok tani dalam pertemuan pada
Sabtu malam.
Setelah itu, data
dari masing-masing kelompok akan dikoordinasikan dengan ketua RT untuk
memastikan warga yang terdampak tercatat.
Ia menilai
keterlibatan kelompok tani penting dalam proses tersebut. Sebab, kelompok tani
memiliki data anggota sekaligus mengetahui kondisi lahan dan aktivitas
pertanian masing-masing petani.
Menurutnya, proses
pendataan tidak sederhana karena harus memilah petani yang benar-benar
terdampak, kemudian memastikan lokasi lahan melalui titik koordinat.
Karena itu, kata dia,
waktu yang dibutuhkan bisa berbeda-beda antara satu kelompok tani dengan
kelompok lainnya.
Meski demikian, ia
berharap proses tersebut dapat dipercepat dan tidak sampai berlarut-larut.
Ia menargetkan
pendataan dapat diselesaikan paling cepat dalam waktu sekitar satu pekan.
“Kalau bisa
dikondisikan, saya minta seminggu paling cepat. Karena ada Poktan yang bisa
cepat, ada Poktan yang lambat, tergantung orangnya,” kata dia.
Ia juga berharap
persoalan petani Bukit Biru tidak hanya diselesaikan melalui bantuan pangan.
Menurutnya, pembangunan dan kelancaran sistem irigasi juga menjadi kebutuhan
penting agar persoalan kekurangan air tidak terus berulang dan kembali
mengganggu produktivitas lahan pertanian.
Sementara itu, Kepala
Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar, Ananias memastikan pemerintah
daerah telah menyiapkan cadangan pangan untuk masyarakat yang terdampak gagal
panen akibat kekeringan.
Ia mengatakan kondisi
ketersediaan pangan Kukar secara umum masih aman hingga akhir tahun.
“Kalau untuk
ketersediaan, kita masih aman sampai akhir tahun. Cadangan pangan pemerintah
juga masih lumayan besar stok kita. Di Bulog saat ini masih ada sekitar 280
ton. Itu bisa untuk memenuhi kebutuhan pangan sampai akhir tahun ini,” ujarnya.
Menurutnya,
pemerintah saat ini masih melakukan verifikasi terhadap laporan gagal panen
dari sejumlah wilayah.
Beberapa laporan
telah diterima dari Kecamatan Loa Janan dan Loa Kulu, sementara wilayah lainnya
masih dalam proses pengecekan lapangan.
Verifikasi diperlukan
untuk memastikan jumlah masyarakat yang terdampak. Sebab, penyaluran cadangan
pangan pemerintah dihitung berdasarkan jumlah jiwa, bukan hanya luas lahan yang
mengalami gagal panen.
“Dari luasan yang
terdampak kekeringan yang mengalami gagal panen itu berapa jiwa yang terdampak.
Itu yang nanti akan kita intervensi dari pemerintah kabupaten,” jelasnya.
Ia memastikan bantuan
tidak akan menunggu terlalu lama setelah data penerima dinyatakan final.
Jika proses
verifikasi dapat diselesaikan dalam satu hingga dua hari, penyaluran bantuan
ditargetkan dilakukan pada pekan yang sama.
“Kalau hari ini kita
selesaikan, ya besok kita sudah bisa salurkan. Jadi tidak menunggu lama-lama.
Karena ini sifatnya kan kedaruratannya,” tegasnya.
Berdasarkan ketentuan
yang menjadi acuan pemerintah daerah, bantuan pangan diberikan selama 60 hari.
Setiap jiwa
memperoleh alokasi 300 gram per hari, sehingga total bantuan yang diterima
mencapai 18 kilogram per jiwa selama dua bulan.
Bantuan tersebut juga
tidak dibatasi berdasarkan wilayah tertentu, pemerintah akan mengintervensi
masyarakat yang benar-benar terdampak gagal panen, termasuk apabila jumlah
warga terdampak dalam satu lokasi hanya satu atau dua jiwa.
Ia menegaskan,
seluruh komoditas pertanian yang mengalami gagal panen dapat masuk dalam
penanganan pemerintah.
Artinya, intervensi
tidak hanya berlaku bagi petani padi, tetapi juga komoditas pertanian lainnya
yang terdampak.
Pemerintah daerah,
lanjutnya, akan menggandeng kepala desa dan penyuluh pertanian dalam proses
pendataan agar tidak ada masyarakat yang terdampak terlewat dari bantuan.
“Tidak ada prioritas,
seluruhnya. Bahkan satu-dua jiwa yang mengalami gagal panen akan kita bantu.
Kita bekerja sama dengan kepala desa, kemudian dengan penyuluh pertanian.
Harapan kami tidak ada warga yang tertinggal,” pungkasnya. (Kriz)